Kamis, 29 Juli 2010

Perdagangan internasional dan Pertumbuhan ekonomi

1.Peran perdagangan internasional dalam pertumbuhan ekonomi
Menurut ahli ekonomi Klasik maupun neo-Klasik perdagangan internasional dapat mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Perdagangan internasional merupakan “motor pertumbuhan (engine of growth)”. Pendapat klasik ini dapat ditelusuri mulai dari David Hume, Ricardo, Marshall, Edgeworth sampai Harberler.

Ricardo, salah satu penulis klasik mengembangkan teori comparative advantage. Inti dari teorinya adalah setiap negara akan mengekspor barang yang memiliki comparative advantage, yakni barang yang dapat dihasilkan dengan menggunakan faktor produksi yang dimiliki oleh negara tersebut dalam jumlah besar dan mengimpor barang yang comparative advantage-nya kecil. Kedua negar akan memperoleh keuntungan dari perdagangan tersebut. Kenaikan perdagangan akan memperbesar potensi pertumbuhan ekonomi.

Beberapa kritik terhadap pandangan klasik ini, antara lain: pertama, teori klasik masih bersifat statis sehingga tidak dapat menjelaskn proses pertumbuhan yang pada dasarnya bersifat dinamis. Kedua, perdagangan internasional justru menyebabkan ketidakmerataan antarnegara miskin dengan negara maju, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan internasional. Ketiga, perdagangan internasional menyebabkan nilai tukar (term of trade) negara berkembang mengalami penurunan. Hal ini disebabkan ekspornya masih terbatas pada barang barang primer, sedangkan barang impornya berupa barang manufaktur.

Meskipun banyak kritik yang dilontarkan, namun kenyataannya perdagangan internasional tetap memiliki peranan yang cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi.

Efek pertumbuhan faktor produksi (kasus negara kecil)
Pertumbuhan faktor produksi, tercermin pada pergeseran keluar kurva kemungkinan produksi (production possibility curve) yang diikuti pula pergeseran ke atas garis harga. Pergeseran ini akan mengakibatkan negara tersebut mencapai kurva indifferen yang lebih tinggi. Pertumbuhan ekonomi cenderung meningkatkan kesejahteraan negara kecil tersebut.

Efek terhadap Konsumsi
Sebelum terjadi pertumbuhan ekonomi, haraga dunia adalah Y0X0 dan negara mencapai tingkat konsumsi yang ditunjukkan pada titik C. Titik tersebut merupakan titik singgung kurva indifferen dan kurva kemungkinan produksi. Garis 0S menggambarkan rasio barang X dan Y yang dikonsumsi.


Pertumbuhan ekonomi dapat menggeser kurva kemungkinan produksi sehingga negara A tersebut dapat berdagang pada harga Y1X1. Kombinasi barang Y dan X yang dikonsumsi tergantung pada kurva indifferen yang dapat menyinggung kurva kemungkinan produksisepanjang garis Y1X1. Secara skematis kemungkinan titik singgung pada garis Y1X1 seperti tertera pada tabel berikut:



Sepanjang garis KL, konsumsi barang X (barang impor) naik secara absolut, tetapi proporsi barang X terhadap barang Y relatif menurun dengan kenaikan pendapatan. Dengan demikian, pertumbuhan menyebabkan rasio barang X terhadap barang Y menurun (anti trade bias). Pada titik L rasio barang X terhadap barang Y tetap (netral) dan sebaliknya pada garis LM, rasio X/Y menaik (protrade bias).


Efek terhadap Produksi
Jumlah serta proporsi faktor produksi (modal dan tenaga kerja) yang dimiliki suatu negara menentukan kapasitas produksi negara tersebut yang tercermin pada kurva kemungkinan produksi. Ada tiga bentuk pertumbuhan faktor produksi, yakni pertumbuhan hanya pada satu faktor produksi saja, pertumbuhan kedua faktor secara proporsional dan pertumbuhan secara proporsional sama dengan yang telah digunakan pada industri tertentu.
a. Pertumbuhan hanya pada satu faktor produksi. Pada gambar 10.2a ditunjukan pergeseran secara horisontal gambar Edgeworth Box dari XL0 ke XL1 sebagai akibat adanya kenaikan jumlah tenaga kerja. Karena intensitas penggunaan faktor produksi tidak berubah, maka garis dari titik X (garis ray) yakni XB merupakan kepanjangan garis XA dan Y0A bergeser paralel menjadi Y1B, tetapi lebih pendek dari garis XA dan XB.

Pada gambar 10.2b perubahan diatas ditunjukan dengan penurunan secara absolut produksi barang Y meskipun Negara itu mengalami pertumbuhan faktor produksi. Kenyataan ini timbul sebagai konsekuensi adanya anggapan fungsi produksi yang linear homogeneous dan deminishing return faktor produksi tenaga kerja. Akibatnya, ratio L0L1/XL0 lebih besar daripada X0X1/OX1. Barang Y (yang sifatnya padat modal) maksimum yang dapat dihasilkan secara relatif lebih kecil daripada barang X. Hal ini disebabkan berlakunya hukum diminishing return untuk tenaga kerja lebih besar daripada barang Y.
Dalam keseimbangan harga dan intensitas penggunaan faktor produksi sama di berbagai negara yang memiliki faktor produksi yang sama. Pada keseimbangan yang baru dengan membandingkan garis XA dan XB dengan Y0A dan Y1B. Output X naik, yang ditunjukkan dengan XB>XA, sedangkan output Y turun.
Analisis demikian itulah yang kemudian dikenal dengan nama teori Rybczynski,yang mengatakan bahwa pertumbuhan dalam salah satu faktor produksi akan selalu mengakibatkan penurunan produksi barnag yang menggunakan faktor produksi yang tidak bertambah. Dengan demikian teori ini adalah penjelasan lebih lanjut teori Hecksher-Ohlin apabila ada penambahan salah satu faktor produksi.

b. Pertumbuhan kedua faktor produksi secara proporsionil.
Gambar 10.3 menunjukan efek pertumbuhan kedua faktor produksi secara proporsionil.


Edgeworth Box bergeser proporsionil dengan perubahan kedua faktor produksi, yakni dari XK0 menjadi XK1 dan XL0 menjadi XL1, dimana K1K0/K0X = L0L1/XL0. Tanpa adanya perubahan harga barang dan intensitas penggunaan faktor , maka XY0 dan XY1 terletak pada satu garis dan Y0A dan Y1B sejajar. Dengan anggapan adanya constant return to scale, maka output akan naikproporsionil dengan kenaikan faktor produksi.


c. Pertumbuhan kedua faktor produksi proporsionil dengan yang digunakan pada industri barang Y. Kondisi ini digambarkan dengan menggeser sumbu Y0 ke atas pada garis yang sama.



Dari ulasan ulasan diatas nampak adanya efek pertumbuhan pada produksi, konsumsi dan perdagangan internasional. Pertumbuhan salah satu faktor produksi akan mengakibatkan produksi barang yang tidak banyak menggunakn faktor produksi tersebut.



Kasus Pertumbuhan Negara Besar
Salah satu anggapan analisa efek pertumbuhan terhadap perdagangan internasional di atas adalah negara A (negara kecil) di mana pertumbuhan yang dialaminya tidak mengalami pengaruh terhadap harga pasaran dunia.

Keadaan mula mula negara a dan B digambarkan dengan offer curve yang bergaris tebal dengan harga relatif OT. Pertumbuhan terjadi di negara A sedangkan negara B tetap. Tergantung pada jenis fungsi produksi barang X dan Y serta perbandingan relatif penggunaan faktor produksi modal dan trenaga kerja satu set kurva indiferen di negara A dapat menghasilkan kurva indiferen yang baru, dapat terletak di dalam ataupun di luar yang lama seperti A” atau A’. Pada kondisi pertama (offer curve A” bagi negara A) dengan offer curve negara B tetap, maka dasar tukar (term of trade) negara A lebih baik, dan dalam keadaan keseimbangan negara A apat memperoleh barang impor X lebih baanyak untuk sejumlah tertentu barang ekspor Y. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi satu negara besar dapat menaikkan atau menurunkan kesejahteraan negara tersebut.

Pertumbuhan negara besar A yang justru malah menurunkankesejahteraan negara tersebut merupakan suatu hipotesis yang dikemukakan oleh Jagdish Bhagawati dengan nama Immiserizing Growth. Secara grafik hipotesis tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Keadaan keseimbangan mula mula negar A terletak pada titik produksi P1 pada kurva kemungkinan produksi X1Y1, dan titikkonsumsi C1 diman kurva indiferen menyinggung garis harga W1W1’. Pertumbuhan ditunjukan dengan bergesernya kurva kemungkinan produksi dari X1Y1 menjadi X2Y2.

Penurunan kesejahteraan terjadi apabila harga relatif barang ekspor Y dari negara A menurun. Hal ini ditunjukan dengan garis harga W3W3’ ( yang lebih tegak). Pada harga ini titik produksi pada P3 dan titik konsumsi pada C3. Kesejahteraan negara A menurun dengan adanya pertumbuhan. Dengan demikian efek pertumbuhan terhadap kesejahteraan sangat tergantung pada harga produk.

0 comments:

Poskan Komentar