Jumat, 18 Februari 2011

MATERIALITAS DAN RISIKO AUDIT

CHAPTER VIII

MATERIALITAS DAN RISIKO


 

MATERIALITAS

FASB 2 mendefinisikan materialitas sbb:

"Jumlah atau besarnya kekeliruan atau salah saji dalam informasi akuntansi, yang dalam kaitannya dengan kondisi yang bersangkutan, mungkin membuat pertimbangan pengambilan keputusan oleh pihak yang berkepentingan berubah atau terpengaruh oleh salah saji tersebut."


 


 

MENENTUKAN PERTIMBANGAN AWAL TENTANG MATERIALITAS

Yaitu jumlah maksimum suatu salah saji dalam L/K yang menurut pendapat auditor tidak mempengaruhi keputusan pemakai.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertimbangan :

  1. Materialitas sebagai konsep yang relatif dan bukan absolut.

    Salah saji material bagi suatu perusahaan belum tentu material juga bagi perusahaan lain.

  2. Beberapa dasar dibutuhkan untuk menetapkan materialitas.
  3. Faktor-faktor kualitatif yang mempengaruhi materialitas.

    Salah saji tertentu lebih penting daripada yang lain meskipun jumlahnya sama. Contoh :

  • Jumlah karena ketidakberesan lebih penting daripada kekeliruan yang tidak disengaja karena ketidakberesan mencerminkan kejujuran dan keandalan dari pihak manajemen atau pihak yang terlibat.
  • Kekeliruan yang kecil dianggap material jika berhubungan dengan kewajiban kontrak.
  • Kekeliruan yang tidak material dapat menjadi material kalau mempengaruhi kecenderungan laba


 

MENGALOKASIKAN PERTIMBANGAN AWAL MENGENAI MATERIALITAS PADA SEGMEN ( SALAH SAJI YANG DAPAT DITOLERANSI )

  • Perlu karena bahan bukti dikumpulkan berdasarkan segmen-segmen daripada L/K secara keseluruhan. Berguna untuk membantu auditor dalam memutuskan jumlah bahan bukti yang cukup untuk dikumpulkan dalam segmen tsb. sehingga akan meminimalisasi biaya audit.
  • Sebagian besar alokasi materialitas pada pos-pos neraca karena neraca memiliki lebih sedikit komponen. Kesulitan pengalokasian materialitas pada akun neraca :
  1. Anggapan bahwa akun tertentu lebih banyak kekeliruan daripada yang lain.
  2. Perlunya mempertimbangkan apakah kekeliruan tsb. lebih saji atau kurang saji.
  3. Biaya audit relatif dari prosedur audit yang mempengaruhi alokasi untuk tiap akun sulit diramalkan
  • Salah saji yang dapat ditoleransi (tolerable misstatement) yaitu materialitas yang dialokasikan dalam pertimbangan awal kepada saldo perkiraan.
  • Tolerable misstatement dapat melebihi materialitas dalam hal :
  1. Kecil kemungkinan seluruh akun akan salah saji sejumlah tolerable misstatement.
  2. Kemungkinan bahwa sebagian akun terjadi lebih saji dan lainnya kurang saji, berakibat efek nettonya menjadi lebih kecil dari nilai materialitas total.


 

ESTIMASI SALAH SAJI DAN PERBANDINGAN

  • Saat pelaksanaan prosedur audit untuk tiap segmen, KKP digunakan untuk mencatat tiap salah saji yang ditemukan
  • Estimasi salah saji diperlihatkan dan dihitung berdasarkan pengujian audit yang sebenarnya. Jika auditor melakukan pendekatan audit pada perkiraan-perkiraan secara berurutan, maka temuan dalam perkiraan sebelumnya dapat digunakan untuk merevisi kekeliruan yang dapat ditoleransi untuk perkiraan selanjutnya.


 

RISIKO AUDIT

* Risiko dalam auditing berarti auditor menerima suatu tingkat ketidakpastian tertentu dalam pelaksanaan audit.

  • Ketidakpastian mengenai kompetensi bahan bukti, efektifitas SPI klien, dan ketidakpastian apakah L/K telah disajikan secara wajar setelah audit selesai.
  • Risiko audit diukur dan perlu penanganan secara hati-hati.


 

Model risiko audit untuk perencanaan

Merupakan suatu model yang digunakan oleh auditor untuk menangani masalah risiko dalam tahap perencanaan pengumpulan bahan bukti agar audit menjadi lebih efektif.

Model risiko audit :

                 AAR

            PDR = -------------

                 IR x CR


 

    PDR = Risiko penemuan yang direncanakan ( Planned Detection Risk )    

    AAR = Risiko audit yang dapat diterima ( Acceptable Audit Risk )

    IR = Risiko bawaan ( Inherent Risk )

    CR = Risiko pengendalian ( Control Risk )

  • Risiko penemuan yang direncanakan ( Planned Detection Risk )

    * Yaitu bahwa bahan bukti yang dikumpulkan dalam segmen gagal menemukan salah saji yang melewati jumlah yang dapat ditoleransi, kalau salah saji semacam itu timbul.

  • Risiko Bawaan ( Inherent Risk )

    * penetapan auditor akan kemungkinan adanya salah saji dalam segmen audit yang melewati batas toleransi, sebelum memperhitungkan faktor efektifitas pengendalian intern.

  • Risiko pengendalian ( Control Risk )

    * Yaitu ukuran penetapan auditor akan kemungkinan adanya kekeliruan (salah saji) dalam segmen audit yang melewati batas toleransi, yang tak terdeteksi atau tercegah oleh SPI klien.

  • Risiko audit yang dapat diterima ( Acceptable Audit Risk )

    * Yaitu ukuran ketersediaan auditor untuk menerima bahwa L/K salah saji secara material walaupun audit telah selesai dan pendapat WTP telah diberikan. Bersifat subyektif.


 

Mengubah risiko audit yang dapat diterima untuk risiko usaha

Faktor-faktor yang mempengaruhi risiko usaha sehingga akan mempengaruhi risiko audit yang dapat diterima :

  1. Tingkat ketergantungan pemakai pada L/K

    Jika pemakai memiliki ketergantungan yang besar pada L/K, maka risiko audit perlu diperkecil. Faktor yang menunjukkan tingkat ketergantungan :

  • Ukuran perusahaan klien
  • Distribusi kepemilikan
  • Jumlah dan sifat kewajiban perusahaan
  1. Kemungkinan akan adanya kesulitan keuangan klien yang timbul setelah laporan audit diterbitkan.

    Dalam hal ini, auditor akan diminta untuk mempertahankan kualitas audit yang dilaksanakannya, bahkan kemungkinan akan dituntut di pengadilan. Jika auditor merasa ada kemungkinan kegagalan finansial atau kerugian besar dan peningkatan risiko usaha, sebaiknya auditor menurunkan AAR

  2. Evaluasi auditor atas integritas manajemen.

    Jika integritas dipertanyakan maka AAR akan rendah. Jika integritas rendah, sering timbul konflik dengan pedagang saham, konsumen, dan aparat negara sehingga akan mempengaruhi anggapan pemakai atas kualitas audit dan dapat menyebabkan tuntutan

Menetapkan risiko audit yang dapat diterima.

  • Menyelidiki kondisi klien, menilai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat ketergantungan pemakai ekstern terhadap laporan, kemungkinan kegagalan keuangan setelah audit selesai, dan integritas manajemen.
  • Auditor menetapkan tingkat risiko sementara yang bersifat subyektif bahwa L/K berisi salah saji material setelah audit selesai.
  • Kemungkinan memperoleh informasi tambahan mengenai klien dan memodifikasi AAR.

RISIKO BAWAAN

  • Model risiko audit mengandung risiko bawaan berarti auditor harus memprediksi dimanakah salah saji yang paling mungkin terjadi dan dimana yang kemungkinannya paling kecil. Informasi ini jumlah bahan bukti yang akan dikumpulkan dan bagaimana auditor mengalokasikannya pada segmen-segmen audit.
  • Risiko bawaan dapat relatif rendah pada kasus tertentu dan cukup tinggi pada kasus lain.
  • Faktor-faktor yang harus ditelaah dalam menetapkan risiko bawaan :

* Sifat bidang usaha klien 

* Hubungan istimewa 

* Integritas manajemen 

* Transaksi tidak rutin 

* Motivasi klien 

* Pertimbangan yang diperlukan untuk mencatat 

* Hasil audit sebelumnya

saldo akun dan transaksi secara benar 

* Penugasan pertama atau penugasan ulang 

* Kerentanan terhadap kecurangan 

* Unsur-unsur populasi 

 


 


 

PERTIMBANGAN MATERIALITAS DAN RISIKO LAINNYA

Risiko Audit Untuk Segmen

  • Risiko pengendalian (CR) dan risiko bawaan (IR) diterapkan secara spesifik untuik tiap siklus, akun, dan tujuan audit sehingga cenderung berbeda. Risiko pengendalian berbeda untuk tiap akun tergantung efektifitas pengendaliannya.
  • AAR diterapkan auditor untuk keseluruhan audit, konstan untuk tiap siklus dan akun utama.
  • CR dan IR bervariasi sehingga risiko penemuan dan bahan bukti audit yang diperlukan juga bervariasi, tergantung situasi secara spesifik.
  • Menghubungkan Salah Saji Yang Dapat Ditoleransi dan Risiko Dengan Tujuan Audit yang Berhubungan Dengan Saldo. IR dan CR ditetapkan untuk setiap tujuan audit, tetapi tidak lazim untuk mengalokasikan materialitas pada tujuan audit karena lebih sulit.

Keterbatasan Pengukuran

  1. Sulit mengukur komponen-komponen dalam model, sehingga auditor biasanya menggunakan ukuran kasar yang subyektif (rendah,sedang,tinggi).
  2. Sulit mengukur jumlah bahan bukti yang diinginkan suatu risiko penemuan yang telah ditetapkan.

    PDR dapat diturunkan dengan mengkombinasikan beberapa prosedur audit, dengan jenis bahan bukti yang berbeda untuk tujuan audit yang berbeda.

    Tidak ada metode pengukuran yang akurat untuk menentukan pengukuran kuantitatif yang tepat mengenai kombinasi bahan bukti, tetapi secara subyektif untuk mengevaluasi kecukupan bahan bukti untuk memenuhi PDR butuh pertimbangan profesional.

Kertas kerja Perencanaan Bahan Bukti Pengujian Terinci Atas Saldo

  • Menghubungkan pertimbangan yang mempengaruhi bahan bukti audit dengan bahan bukti yang tepat untuk dikumpulkan
  • Kertas kerja perencanaan bahan bukti menunjukkan bahwa faktor-faktor lain harus dipertimbangkan sebelum membuat keputusan bahan bukti aktiva


 

HUBUNGAN RISIKO DAN MATERIALITAS DAN BAHAN BUKTI

Risiko : ukuran ketidakpastian dan materialitas : ukurannya dalam jumlah (magnitude) atau besar (size). Jika diterapkan secara bersama berarti pengukuran tingkat ketidakpastian dari suatu jumlah tertentu.

Mengevaluasi Hasil

Model risiko audit untuk mengevaluasi hasil audit sesuai SAS 47 :


 

        AcAR = IR x CR x AcDR


 

AcAR    = Risiko audit yang dicapai (Achieved Audit Risk )

Yaitu satu ukuran risiko yang diambil audit bahwa satu akun dalam L/K secara material salah saji setelah auditor mengumpulkan bahan bukti audit.

IR     = Risiko bawaan ( Inherent Risk )

Yaitu faktor risiko bawaan yang telah direvisi selama audit.

CR    = Risiko pengendalian ( Control Risk )

Yaitu risiko pengendalian yang telah direvisi.

AcDR    = Risiko penemuan yang dicapai ( Achieved Detection Risk )

Yaitu satu ukuran dari risiko bahwa bahan bukti audit untuk satu segmen tidak mendeteksi salah saji melebihi jumlah yang dapat ditoleransi, jika salah saji tersebut ada.

Auditor dapat mengurangi penemuan yang dicapai hanya dengan mengumpulkan bahan bukti.

Contoh : Jika risiko audit yang dapat dicapai (AcDR) 4%, berarti ada 4% risiko bahwa saldo akun persediaan mengandung salah saji lebih dari salah saji yang dapat ditoleransi.

Keadaan yang diinginkan jika AcAR <= AAR

Merevisi Risiko dan Bahan Bukti

  • Auditor harus berhati-hati dalam memutuskan bahwa berdasarkan bahan bukti yang telah dikumpulkan penetapan CR atau IR semula terlalu kecil atau AAR terlalu besar. Tindakan yang dapat diambil oleh auditor :
  1. Penetapan risiko harus direvisi.
  2. Auditor harus memperhitungkan efek perubahan ini terhadap jumlah bahan bukti yang disyaratkan, tanpa menggunakan model risiko audit.


     

------------------------------ MJ ------------------------------

0 comments:

Poskan Komentar